Kanekes bukti terapan ajaran Sunda Wiwitan
Geografi : Sundaland, Sunda
NusantaRA.
Agama : Sundayana, Sunda Wiwitan
ajaran Sundayana.
Ajaran Sundayana menyembah kepada:
·
Sang Hiyang Keresa (Nu Maha Kuasa),
·
Nu ngersakeun (Yang Maha Menghendaki).
·
Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa),
·
Batara Jagat (Tuhan Penguasa Alam)
·
Batara Seda Niskala (Tuhan Yang Maha Gaib)
Konsep Alam:
1. Buana
Nyungcung, tempat linggih Sang Hiyang Keresa, tertinggi. Terdiri dari 18 lapis. Lapisan
paling atas adalah Buana Suci Alam Padang, Alam Kahiyangan atau Mandala Hiyang, tempat tinggal Nyi Pohaci Sanghiyang Asri dan Sunan Ambu.
2.
Buana Panca Tengah, :
a. Sasaka
Pusaka Buana, dianggap paling suci, Berdampingan dengan Sasaka Domas (atawa Salaka Domas). Pusat dunia.
b. Kampung Dalam, Pusat lingkungan
c. Kampung
Luar/penyangga
d. Banten
e. Tanah Sunda
f.
Luar Tatar Sunda yang tertua adalah Batara Cikal
3.
Buana Larang , naraka. Panghandapna.
Ritual/Upacara:
Muja
Mantra
Berikut salah satu
contoh mantera maysrakat Baduy :
Sapun awaking reuk
make pasang panjang pasadun pok sablapun
Meunag Ahung tujuh
kali
Ahung deui
Ahung deui
Ahung malungga
Ahung malingga
Ahung mangdegdeg
Ahung mangandeg
Ahung manglindu
asih
Ka Ambu aing Sira
mangambung
Ka Bapa aing Sira
mangumbang
Pangjungjungkeun
panglawungkeun
Ku Ambu aing sira
manglaung
Ku Bapa aing sira
mangumpang
Pangnyambungkeun
aing saur pangngapakeun aing saba
Ka luhur ka mega
beureum
Ka mega hideung
Ka mega si
karambangan
Ka mega si
kareumbingan
Ka mega si
karenten
Ka mega si
kalambatan
Ka mega si
kaleumbitan
Ka mega ssi
antrawela
Ka kocapna
Ka ucapna
Ka Puncakning ibun
Ka guru putra
hiyang bayu
Ka nu weang
nyukcruk ibun
Ahung…….
Tingkatan
mantra yang dikutip dari mantera yang dipakai dalam Pasundan Pantun Baduy
tersebut, termasuk Mantera tingkat pertengahan. Berikut adalah kutipan dari
Mantera yang lebih muda, diambil beberapa bait dari Mantera pada upacara
Ngareremokeun (mengawinkan) Nyai Pohaci dengan Bumi. Suatu upacara yang
dinamakan pula Ngaseuk. Dalam tradisi Adat sunda Wiwitan, masa Ngaseuk adalah
masa Ngareremokeun padi yang diberi nama sangat indah, agung dan puitis; Nu
Geulis Nyai Pohaci Sri Dangdayang Tresnawati, dengan Tanah atau Bumi yang
bergelar sangat perkasa:
Weweg
sampeg, Mandala pageuh
Mangka tetep
mangka langgeng
Mangka
langgeng tunggal tineung
Datang hiji
datang dua
Datang tilu
nungku nungku
Datang opat
ngawun ngawun
Datang lima
lingga emas
Datang genep
nguren nguren
Datang tujuh
lilimbungan
Puluhan
tanpa wilangan
Sedang dalam
Mantera mengundang kehadiran Nyai Pohaci Dangdayang Tresnawati pada acara Tari
Baksa untuk memeriahkan Ngeslamkeun anak anak Baduy Kanekes, antara lain
berbunyi:
Calik calik
nu geulis
Nyai Sri
calik di dieu
Unggah ka
pasaran lega
Geusan sia
gagayahan
Geusan sia
gagayahan
Di gedong
manik mandala pageuh
Lemut teuing
ku buruanana
Lesang
teuing ku bojana
Nu geulis
ranggeuy mirikiniknik
Bar ngampar
ku samak metruk
Gasan bujang
kasangna bagus
Gasan Nyai
tes netepan
Ngajepret
palisir bodas
Mantra dalam
jenis tinggi berusia tua, hanya di sablakan pada upacara sakral seperti pada
jarah ke Sasaka Domas atau Sasaka Mandala, satu tahun sekali. Pengsablaannya
(pembacaan mantera) Hanya dilakukan oleh Girang Puun dari Tangtu Padaageung
(Baduy Jero Cikeusik). Sedangkan pengsablaan mantera tua pada upacara sakral
Ngalaksa dan Ngawalu tersebut, hanya dapat dilaksanakan Baris Kolot (tertua)
tertentu dari Baduy Jero (Tangtu) atau Baduy Luar (Panamping). Karenanya,
wajarlah jika Sastera Lisan Baduy berbentuk Mantera tersebut, hanya dikuasai
oleh beberapa Baris Kolot saja. Sehingga dikawatirkan keadaan atau
kelestariannya akan cenderung menghadapi kepunahan. Paling tidak ada generasi
penerusnya. Bahasa yang dipergunakan Mantera yang biasa dipakai para Girang
Puun, waktu Jarah atau Muja ke Sasaka Pusaka Mandala atau Sasaka Domas, ialah
bahasa Sunda Kuno.
Pikukuh,
adalah Hukum Adat Baduy Kanekes, yang menyumber pada keyakinan Sunda Wiwitan.
Diturunkan dengan lisan turun temurun sejak kurun tahun tidak terhitung.
Terjalin dalam untaian kata dan kalimat, berbentuk puisi serta prosa lirik.
Seperti: Lonjor teu beunang dipotong,
pondok teu beunang disambung (panjang tak dapat dipotong, pendek tak dapat
disambung).
Arca domas
Objek terpenting dalam kaitannya
dengan sistem religi Orang Baduy adalah Sasaka Domas. Objek itu sangatlah
bersifat rahasia dan sakral, karena merupakan objek pemujaan paling suci bagi
Orang Baduy. Bahkan Orang Baduy sendiri hanya setahun sekali yaitu pada bulan
Kalima (upacara muja) dan orang terpilih oleh puun saja yang boleh ke sana.
Tempat pemujaan itu merupakan sebuah bukit yang membentuk punden berundak
sebanyak tujuh tingkatan, makin ke selatan undak-undakan tersebut makin tinggi
dan suci.
Dinding tiap-tiap undakan terdapat
hambaro (benteng) yang terdiri atas susunan batu tegak (menhir) dari batu kali.
Pada bagian puncak punden terdapat menhir dan arca batu. Arca batu inilah yang
dikenal dengan sebutan Sasaka Domas (kata ?domas? berarti keramat/suci). Sasaka
Domas digambarkan menyerupai bentuk manusia yang sedang bertapa. Arca ini
terbuat dari batu andesit dengan pengerjaan dan bentuk yang sangat sederhana
(seperti arca tipe polinesia atau arca megalitik). Sasaka Domas ini terletak di
tengah hutan yang sangat lebat tidak jauh dari mata air hulu sungai Ciujung.
Kompleks Sasaka Domas ini meliputi areal sekitar 0,5 hektar dengan suhu yang
sangat lembab, sehingga batu-batu yang ada di sana semuanya berwarna hijau
ditumbuhi lumut.
Objek religi terpenting bagi
Masyarakat Baduy adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap
paling sakral. Orang Baduy mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan
setiap tahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan
bulan Juli. Hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota
masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di
kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan.
Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan
penuh air yang jernih, maka bagi Masyarakat Baduy itu merupakan pertanda bahwa
hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik.
Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan
pertanda kegagalan panen.
<span>kalau boleh dikatakan
Kanekes atau Baduy merupakan :Kaum berdikari yang seharusnya menjadi contoh
</span><span>Indonesia</span>
CINTA
warisan nenek moyang dan alam, berdikari dan jauh daripada hidup moden.
Begitulah kaum Baduy di Banten, wilayah baru di Indonesia (sejak dipisahkan
secara rasmi daripada wilayah Jawa Barat pada 2000). Banten juga terkenal
sebagai wilayah ‘seribu pendekar’ kerana pernah mempunyai para wira yang hebat.
Suku Baduy terdapat di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.
Mereka telah menarik perhatian luas pelancong ke Indonesia. Hukum adat mereka
melarang masyarakat Baduy berhubungan dengan dunia luar termasuk hal-hal yang
berbau kemodenan. Jika ada yang melanggar peraturan ini, orang itu akan
disingkirkan.
Baduy Dalam
sangat ketat menghormati warisan nenek moyang dan mereka sangat patuh terhadap
peraturan agar tidak berhubung secara aktif dengan luar dan kalau ada yang
melanggar hukum, mereka akan disingkirkan. Baduy Luar pula sudah mula
berinteraksi dengan budaya luar dan kemodenan.
Untuk
menegakkan peraturan adat ini, suku Baduy Dalam mempunyai upacara tahunan yang
disebut Pun Sapun yang memuja alam.
Setelah
upacara, ia dilanjutkan dengan pemeriksaan dari rumah ke rumah untuk memastikan
bahawa tiada keluarga yang mempunyai barang-barang dari luar seperti
televisyen, radio atau barangan yang menandakan kemodenan. Jika ditemui,
anggota Baduy Dalam akan dikenakan tekanan menurut peraturan adat termasuk
disingkirkan.
Perbedaan
antara Baduy Dalam dan Baduy Luar akan jelas terpapar pada pakaian berdasarkan
status sosial, tingkat umur dan peranan. Umumnya, Baduy Dalam berpakaian putih
atau cerah dan Baduy Luar berpakaian hitam atau gelap.
Masyarakat
Baduy sangat patuh kepada pemimpin adat mereka yang digelar Puun.Puun mempunyai
tugas untuk melestarikan hukum adat dan mengatur tatacara kehidupan suku. Apa
pun yang dikatakan ketua adat akan dipatuhi oleh anggota masyarakat Baduy. Puun
juga memerhati peredaran bintang untuk mengatur penanggalan (kalendar) yang
berfungsi, terutamanya, untuk mengetahui masa bercucuk tanam. Ciri lain yang
menonjol daripada suku Baduy ialah pola hidupnya yang sangat sederhana dan
tidak mengharapkan bantuan daripada luar.
Masyarakat
ini sangat berdikari dengan berladang. Mereka menanam pelbagai jenis tanaman,
termasuk kapas. Aktiviti berdagang dilakukan secara tukar ganti (barter).Untuk
keperluan seperti pakaian, mereka menenun kain sendiri (pekerjaan utama kaum
wanitanya). Suku Baduy sangat kreatif dalam menghasilkan tenunan dan kerja
tangan seperti Koja dan Jarog (beg yang diperbuat daripada kulit kayu).
Selain patuh
kepada ketua adat atau Puun, mereka juga masih menghargai ketua pemerintah
setempat di luar seperti camat (penghulu) atau bupati (pegawai daerah). Bukti
hormat jelas terpapar pada upacara tahunan, Seba kepada Bapak gede. Upacara ini
ditanda dengan penyerahan (ufti) hasil tuaian masyarakat Baduy kepada camat
Leuwidamar dan Bupati Lebak.
Suku Baduy
sangat menghargai alamnya. Mereka menjaga, melindungi dan melestarikan tanaman
dan pohon serta hutan di sekitar mereka dengan sangat ketat. Bahkan, mereka
mempunyai larangan yang sangat ketat untuk tidak memasuki ‘hutan larangan’ yang
dikatakan terdapat di daerah di beberapa hulu sungai di Banten.
Arca Domas
yang biasa disembah di hutan larangan. Kononnya, arca itu diperbuat daripada
emas tulen. Apakah arca ini merupakan dongeng atau betul-betul ada. Yang pasti,
tiada seorang pun dapat sampai ke tempat ini tanpa izin Puun.
Baduy
menyambut Ngalaksa yang dikatakan serupa dengan Hari Raya Puasa (atau Lebaran
menurut Muslim Indonesia) sebagai tanda rasa syukur kepada Tuhan. Ia disambut
setelah masyarakat Baduy berpuasa tiga bulan atau Kawalu. Ketika Kawalu, Baduy
Luar atau Baduy Dalam dilarang keras daripada berhubung dengan masyarakat luar.
Masyarakat Baduy patuh kepada pemimpin. Ketika krisis ekonomi melanda kenaikan
harga makanan, Baduy dapat dijadikan contoh dari segi daya berdikari dan
kreativitas. Ahuuung,,,
!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar