Jumat, 21 Oktober 2016

Kanekes bukti terapan ajaran Sunda Wiwitan

Kanekes bukti terapan ajaran Sunda Wiwitan

Geografi : Sundaland, Sunda NusantaRA.

Agama : Sundayana, Sunda Wiwitan ajaran Sundayana.
Ajaran Sundayana menyembah kepada:
·          Sang Hiyang Keresa (Nu Maha Kuasa),
·         Nu ngersakeun (Yang Maha Menghendaki).
·         Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa),
·         Batara Jagat (Tuhan Penguasa Alam)
·         Batara Seda Niskala (Tuhan Yang Maha Gaib)

Konsep Alam:
1.       Buana Nyungcung, tempat linggih Sang Hiyang Keresa, tertinggi. Terdiri dari 18 lapis. Lapisan paling atas adalah Buana Suci Alam Padang,   Alam Kahiyangan atau Mandala Hiyang, tempat tinggal  Nyi Pohaci Sanghiyang Asri dan  Sunan Ambu.
2.       Buana Panca Tengah, :
a.       Sasaka Pusaka Buana, dianggap paling suci, Berdampingan dengan Sasaka Domas (atawa Salaka Domas). Pusat dunia.
b.      Kampung Dalam, Pusat lingkungan
c.       Kampung Luar/penyangga
d.      Banten
e.      Tanah Sunda
f.         Luar Tatar  Sunda yang tertua adalah Batara Cikal
3.       Buana Larang , naraka. Panghandapna.

Ritual/Upacara:
Muja
Mantra
Berikut salah satu contoh mantera maysrakat Baduy :
Sapun awaking reuk make pasang panjang pasadun pok sablapun

Meunag Ahung tujuh kali
Ahung deui
Ahung deui
Ahung malungga
Ahung malingga
Ahung mangdegdeg
Ahung mangandeg
Ahung manglindu asih
Ka Ambu aing Sira mangambung
Ka Bapa aing Sira mangumbang
Pangjungjungkeun panglawungkeun
Ku Ambu aing sira manglaung
Ku Bapa aing sira mangumpang
Pangnyambungkeun aing saur pangngapakeun aing saba
Ka luhur ka mega beureum
Ka mega hideung
Ka mega si karambangan
Ka mega si kareumbingan
Ka mega si karenten
Ka mega si kalambatan
Ka mega si kaleumbitan
Ka mega ssi antrawela
Ka kocapna
Ka ucapna
Ka Puncakning ibun
Ka guru putra hiyang bayu
Ka nu weang nyukcruk ibun
Ahung…….

Tingkatan mantra yang dikutip dari mantera yang dipakai dalam Pasundan Pantun Baduy tersebut, termasuk Mantera tingkat pertengahan. Berikut adalah kutipan dari Mantera yang lebih muda, diambil beberapa bait dari Mantera pada upacara Ngareremokeun (mengawinkan) Nyai Pohaci dengan Bumi. Suatu upacara yang dinamakan pula Ngaseuk. Dalam tradisi Adat sunda Wiwitan, masa Ngaseuk adalah masa Ngareremokeun padi yang diberi nama sangat indah, agung dan puitis; Nu Geulis Nyai Pohaci Sri Dangdayang Tresnawati, dengan Tanah atau Bumi yang bergelar sangat perkasa:

Weweg sampeg, Mandala pageuh
Mangka tetep mangka langgeng
Mangka langgeng tunggal tineung
Datang hiji datang dua
Datang tilu nungku nungku
Datang opat ngawun ngawun
Datang lima lingga emas
Datang genep nguren nguren
Datang tujuh lilimbungan
Puluhan tanpa wilangan

Sedang dalam Mantera mengundang kehadiran Nyai Pohaci Dangdayang Tresnawati pada acara Tari Baksa untuk memeriahkan Ngeslamkeun anak anak Baduy Kanekes, antara lain berbunyi:

Calik calik nu geulis
Nyai Sri calik di dieu
Unggah ka pasaran lega
Geusan sia gagayahan
Geusan sia gagayahan
Di gedong manik mandala pageuh
Lemut teuing ku buruanana
Lesang teuing ku bojana
Nu geulis ranggeuy mirikiniknik
Bar ngampar ku samak metruk
Gasan bujang kasangna bagus
Gasan Nyai tes netepan
Ngajepret palisir bodas

Mantra dalam jenis tinggi berusia tua, hanya di sablakan pada upacara sakral seperti pada jarah ke Sasaka Domas atau Sasaka Mandala, satu tahun sekali. Pengsablaannya (pembacaan mantera) Hanya dilakukan oleh Girang Puun dari Tangtu Padaageung (Baduy Jero Cikeusik). Sedangkan pengsablaan mantera tua pada upacara sakral Ngalaksa dan Ngawalu tersebut, hanya dapat dilaksanakan Baris Kolot (tertua) tertentu dari Baduy Jero (Tangtu) atau Baduy Luar (Panamping). Karenanya, wajarlah jika Sastera Lisan Baduy berbentuk Mantera tersebut, hanya dikuasai oleh beberapa Baris Kolot saja. Sehingga dikawatirkan keadaan atau kelestariannya akan cenderung menghadapi kepunahan. Paling tidak ada generasi penerusnya. Bahasa yang dipergunakan Mantera yang biasa dipakai para Girang Puun, waktu Jarah atau Muja ke Sasaka Pusaka Mandala atau Sasaka Domas, ialah bahasa Sunda Kuno.

Pikukuh, adalah Hukum Adat Baduy Kanekes, yang menyumber pada keyakinan Sunda Wiwitan. Diturunkan dengan lisan turun temurun sejak kurun tahun tidak terhitung. Terjalin dalam untaian kata dan kalimat, berbentuk puisi serta prosa lirik. Seperti: Lonjor teu beunang dipotong, pondok teu beunang disambung (panjang tak dapat dipotong, pendek tak dapat disambung).

Arca domas
Objek terpenting dalam kaitannya dengan sistem religi Orang Baduy adalah Sasaka Domas. Objek itu sangatlah bersifat rahasia dan sakral, karena merupakan objek pemujaan paling suci bagi Orang Baduy. Bahkan Orang Baduy sendiri hanya setahun sekali yaitu pada bulan Kalima (upacara muja) dan orang terpilih oleh puun saja yang boleh ke sana. Tempat pemujaan itu merupakan sebuah bukit yang membentuk punden berundak sebanyak tujuh tingkatan, makin ke selatan undak-undakan tersebut makin tinggi dan suci.

Dinding tiap-tiap undakan terdapat hambaro (benteng) yang terdiri atas susunan batu tegak (menhir) dari batu kali. Pada bagian puncak punden terdapat menhir dan arca batu. Arca batu inilah yang dikenal dengan sebutan Sasaka Domas (kata ?domas? berarti keramat/suci). Sasaka Domas digambarkan menyerupai bentuk manusia yang sedang bertapa. Arca ini terbuat dari batu andesit dengan pengerjaan dan bentuk yang sangat sederhana (seperti arca tipe polinesia atau arca megalitik). Sasaka Domas ini terletak di tengah hutan yang sangat lebat tidak jauh dari mata air hulu sungai Ciujung. Kompleks Sasaka Domas ini meliputi areal sekitar 0,5 hektar dengan suhu yang sangat lembab, sehingga batu-batu yang ada di sana semuanya berwarna hijau ditumbuhi lumut.

Objek religi terpenting bagi Masyarakat Baduy adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Baduy mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setiap tahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi Masyarakat Baduy itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen.
<span>kalau boleh dikatakan Kanekes atau Baduy merupakan :Kaum berdikari yang seharusnya menjadi contoh </span><span>Indonesia</span>

CINTA warisan nenek moyang dan alam, berdikari dan jauh daripada hidup moden. Begitulah kaum Baduy di Banten, wilayah baru di Indonesia (sejak dipisahkan secara rasmi daripada wilayah Jawa Barat pada 2000). Banten juga terkenal sebagai wilayah ‘seribu pendekar’ kerana pernah mempunyai para wira yang hebat. Suku Baduy terdapat di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Mereka telah menarik perhatian luas pelancong ke Indonesia. Hukum adat mereka melarang masyarakat Baduy berhubungan dengan dunia luar termasuk hal-hal yang berbau kemodenan. Jika ada yang melanggar peraturan ini, orang itu akan disingkirkan.

Baduy Dalam sangat ketat menghormati warisan nenek moyang dan mereka sangat patuh terhadap peraturan agar tidak berhubung secara aktif dengan luar dan kalau ada yang melanggar hukum, mereka akan disingkirkan. Baduy Luar pula sudah mula berinteraksi dengan budaya luar dan kemodenan.

Untuk menegakkan peraturan adat ini, suku Baduy Dalam mempunyai upacara tahunan yang disebut Pun Sapun yang memuja alam.

Setelah upacara, ia dilanjutkan dengan pemeriksaan dari rumah ke rumah untuk memastikan bahawa tiada keluarga yang mempunyai barang-barang dari luar seperti televisyen, radio atau barangan yang menandakan kemodenan. Jika ditemui, anggota Baduy Dalam akan dikenakan tekanan menurut peraturan adat termasuk disingkirkan.

Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar akan jelas terpapar pada pakaian berdasarkan status sosial, tingkat umur dan peranan. Umumnya, Baduy Dalam berpakaian putih atau cerah dan Baduy Luar berpakaian hitam atau gelap.

Masyarakat Baduy sangat patuh kepada pemimpin adat mereka yang digelar Puun.Puun mempunyai tugas untuk melestarikan hukum adat dan mengatur tatacara kehidupan suku. Apa pun yang dikatakan ketua adat akan dipatuhi oleh anggota masyarakat Baduy. Puun juga memerhati peredaran bintang untuk mengatur penanggalan (kalendar) yang berfungsi, terutamanya, untuk mengetahui masa bercucuk tanam. Ciri lain yang menonjol daripada suku Baduy ialah pola hidupnya yang sangat sederhana dan tidak mengharapkan bantuan daripada luar.

Masyarakat ini sangat berdikari dengan berladang. Mereka menanam pelbagai jenis tanaman, termasuk kapas. Aktiviti berdagang dilakukan secara tukar ganti (barter).Untuk keperluan seperti pakaian, mereka menenun kain sendiri (pekerjaan utama kaum wanitanya). Suku Baduy sangat kreatif dalam menghasilkan tenunan dan kerja tangan seperti Koja dan Jarog (beg yang diperbuat daripada kulit kayu).

Selain patuh kepada ketua adat atau Puun, mereka juga masih menghargai ketua pemerintah setempat di luar seperti camat (penghulu) atau bupati (pegawai daerah). Bukti hormat jelas terpapar pada upacara tahunan, Seba kepada Bapak gede. Upacara ini ditanda dengan penyerahan (ufti) hasil tuaian masyarakat Baduy kepada camat Leuwidamar dan Bupati Lebak.

Suku Baduy sangat menghargai alamnya. Mereka menjaga, melindungi dan melestarikan tanaman dan pohon serta hutan di sekitar mereka dengan sangat ketat. Bahkan, mereka mempunyai larangan yang sangat ketat untuk tidak memasuki ‘hutan larangan’ yang dikatakan terdapat di daerah di beberapa hulu sungai di Banten.

Arca Domas yang biasa disembah di hutan larangan. Kononnya, arca itu diperbuat daripada emas tulen. Apakah arca ini merupakan dongeng atau betul-betul ada. Yang pasti, tiada seorang pun dapat sampai ke tempat ini tanpa izin Puun.


Baduy menyambut Ngalaksa yang dikatakan serupa dengan Hari Raya Puasa (atau Lebaran menurut Muslim Indonesia) sebagai tanda rasa syukur kepada Tuhan. Ia disambut setelah masyarakat Baduy berpuasa tiga bulan atau Kawalu. Ketika Kawalu, Baduy Luar atau Baduy Dalam dilarang keras daripada berhubung dengan masyarakat luar. Masyarakat Baduy patuh kepada pemimpin. Ketika krisis ekonomi melanda kenaikan harga makanan, Baduy dapat dijadikan contoh dari segi daya berdikari dan kreativitas. Ahuuung,,, !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar