Tanpa mengurangi nilai spiritual yang ada dalam ajaran agama, untuk menyembah dan bersujud kepada TUHAN semesta alam, pencipta langit dan bumi.
Ajaran yang mengajakan hubungan manusia dengan "Sang Pencipta", dan manusia dengan sesamanya.
Inti dari semua ajaran agama adalah memuja, sujud menyembah kepada "Allah:, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa, Yang Maha Rahim, Yang Maha Segalanya dengan perasaan "welas asih", kasih, rahman-rahim.
Berkomunikasi dengan Sang Pencipta yang Maha Segalanya dapat di lakukan oleh siapa saja mahluk di bumi ini.
Manusia berkomunikasi dengan Sang Maha Segalanya dengan berdoa, menyampaikan semua isi hati kepada NYA.
Merenunglah sejenak!
Agar doktrin yangg disisipkan terselubung atau terang-terangkan dapat di cerna!!.
Agar tidak tersesat jalan.
Tuhan yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Segalanya sudah pasti tahu persis apa yang di butuhkan manusia dan semua mahluk di bumi.
Berdoa dalam hening, bening, dan bersih adalah yang terbaik, dalam kata lain adalah meditasi membuka frekwensi untuk masuk ke dalam dunia lain.
Di butuhkan hati yang putih bersih untuk dapat berkomunikasi mencapai dimensi yang lebih tinggi, dan itu dapat di lakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh agama yang di anut.
Hati yang putih bersih, sudah pasti akan membawa diri kepada "welas asih", kasih, rahman-rahim.
Karena nafsu raga dapat di kendalikan oleh jiwa yang bersih untuk mendapatkan kekayaan yang hakiki.
Jiwa dan Raga Manusia hidup berjanji pada takdir yang harus di jalani nya, dan pertanggung jawaban nya pada dimensi yang akan di hadapi nya saat kembali kepangkuan sang Khalik.
Dalam semua ajaran agama;, kebaikan surga upahnya, kejahatan ada dalam neraka.
Meningkatkan kesadaran spiritual manusia sebagai harkat yang besar untuk tidak bertingkah seperti binatang dengan menyakiti sesamanya, menyakiti alam demi keserakahan raga dan jiwa yang jauh dari nilai spiritual.
Nilai spiritual apa yang harus di lakukan manusia di bumi tempat ziarah fana yang hanya sebentar saja?.
Masyarakat Pasundan memiliki slogan "silih asah, silih asih dan silih asuh", tri mulia sebagai falsafah hidup.
(Maaf yang mungkin di plesetkan menjadi "Trinitas" yang tidak sama artinya.),
Orang Minahasa dengan ajaran Tonaas nya memiliki slogan/ falsafah hidup "Sitou timou tumotou", yang berarti manusia hidup untuk menghidupkan manusia lainnya.
Menghidupkan manusia lainnya atau welas asih kepada sesama tidak dapat di batasi dengan nilai materi yang sudah di bayarkan dalam "ajaran agama".
Masuklah ke dalam batin dan biarlah hati atau jiwa memberikan masukan, dengarkanlah institusi hati.
Jadi berdoa dalam hening, bening dan bersih hati adalah cara terbaik mengapai nilai spiritual manusia dan nilai kemanusiaan itu sendiri. Istirahatkan otak, kosongkan pikiran dan berkomunikasilah ke dalam dimensi lain.
Salam NusantaRA.
Ajaran yang mengajakan hubungan manusia dengan "Sang Pencipta", dan manusia dengan sesamanya.
Inti dari semua ajaran agama adalah memuja, sujud menyembah kepada "Allah:, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa, Yang Maha Rahim, Yang Maha Segalanya dengan perasaan "welas asih", kasih, rahman-rahim.
Berkomunikasi dengan Sang Pencipta yang Maha Segalanya dapat di lakukan oleh siapa saja mahluk di bumi ini.
Manusia berkomunikasi dengan Sang Maha Segalanya dengan berdoa, menyampaikan semua isi hati kepada NYA.
Merenunglah sejenak!
Agar doktrin yangg disisipkan terselubung atau terang-terangkan dapat di cerna!!.
Agar tidak tersesat jalan.
Tuhan yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Segalanya sudah pasti tahu persis apa yang di butuhkan manusia dan semua mahluk di bumi.
Berdoa dalam hening, bening, dan bersih adalah yang terbaik, dalam kata lain adalah meditasi membuka frekwensi untuk masuk ke dalam dunia lain.
Di butuhkan hati yang putih bersih untuk dapat berkomunikasi mencapai dimensi yang lebih tinggi, dan itu dapat di lakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh agama yang di anut.
Hati yang putih bersih, sudah pasti akan membawa diri kepada "welas asih", kasih, rahman-rahim.
Karena nafsu raga dapat di kendalikan oleh jiwa yang bersih untuk mendapatkan kekayaan yang hakiki.
Jiwa dan Raga Manusia hidup berjanji pada takdir yang harus di jalani nya, dan pertanggung jawaban nya pada dimensi yang akan di hadapi nya saat kembali kepangkuan sang Khalik.
Dalam semua ajaran agama;, kebaikan surga upahnya, kejahatan ada dalam neraka.
Meningkatkan kesadaran spiritual manusia sebagai harkat yang besar untuk tidak bertingkah seperti binatang dengan menyakiti sesamanya, menyakiti alam demi keserakahan raga dan jiwa yang jauh dari nilai spiritual.
Nilai spiritual apa yang harus di lakukan manusia di bumi tempat ziarah fana yang hanya sebentar saja?.
Masyarakat Pasundan memiliki slogan "silih asah, silih asih dan silih asuh", tri mulia sebagai falsafah hidup.
(Maaf yang mungkin di plesetkan menjadi "Trinitas" yang tidak sama artinya.),
Orang Minahasa dengan ajaran Tonaas nya memiliki slogan/ falsafah hidup "Sitou timou tumotou", yang berarti manusia hidup untuk menghidupkan manusia lainnya.
Menghidupkan manusia lainnya atau welas asih kepada sesama tidak dapat di batasi dengan nilai materi yang sudah di bayarkan dalam "ajaran agama".
Masuklah ke dalam batin dan biarlah hati atau jiwa memberikan masukan, dengarkanlah institusi hati.
Jadi berdoa dalam hening, bening dan bersih hati adalah cara terbaik mengapai nilai spiritual manusia dan nilai kemanusiaan itu sendiri. Istirahatkan otak, kosongkan pikiran dan berkomunikasilah ke dalam dimensi lain.
Salam NusantaRA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar