Bangsa Indonesia saat ini semakin tidak memahami tata-cara, guna dan makna
Sangu Tumpeng (Nasi Tumpeng) yang seharusnya dibuat secara khusus beradasarkan
aturan ketat. Itu sebabnya kehadiran Sangu Tumpeng saat ini tidak
‘menghadirkan’ sesuatu apapun (*kejadian yang diharapkan), sebab ia dihadirkan
hanya sebagai syarat pelengkap perayaan budaya.Sangu Tumpeng sesungguhnya adalah kitab ajaran masyarakat Nusantara yang diungkapkan melalui bentuk makanan. Artinya, segala hal yang terdapat pada Sangu Tumpeng tidak lagi berupa bahasa lisan ataupun bahasa tulisan tetapi lebih merupakan “bahasa rupa bentuk” yang padat makna, dari cara pembuatan hingga penyajian harus dilakukan sesuai aturan. Artinya, jika pola tahapan pembuatan dilanggar maka sama dengan menghilangkan sebagian dari mata rantai ‘ayat-ayat’ yang berisi ajaran.
Tanda-tanda yang dilambangkan melalui peralatan memasak merupakan
“peringatan” bahwa alam (lingkung kehidupan) harus tetap terjaga, hal ini
mengingatkan kepada seluruh keturunan agar tetap waspada karena bangsa
Nusantara hidup di wilayah gunung berapi, dalam istilah lain diumpamakan dengan
BANGSA YANG MENUNGGANGI NAGA API.
Makna tanda yang terkandung pada peralatan memasak adalah sebagai berikut;
api melambangkan matahari, batu bata merah menandakan bumi, dandang (se’eng)
melambangkan gunung, air melambangkan sumber kehidupan, kukusan kerucut
melambangkan kawah gunung berapi (yang terkandung), kayu bakar melambangkan
tumbuhan atau hutan, dan nasi yang ada di dalamnya menandakan kesuburan dan
kemakmuran.
Lambang pada perlengkapan Tumpeng
Pengolahan Sangu Tumpeng
hanya boleh dilakukan oleh kaum wanita dewasa yang dalam keadaan bersih (tidak
sedang menstruasi) dan telah mensucikan diri, sedangkan kaum pria bertugas
menyediakan beragam kebutuhannya. Selama tahap pembuatan, wanita tersebut tidak
boleh disentuh ataupun berbicara dengan laki-laki. Hal ini tentu saja bukan
tanpa maksud dan tanpa makna. Nilai “wanita suci” yang terkandung di dalam
tahap mengolah tumpeng menceriterakan tentang sosok Ibu Pertiwi yang sedang
menata kehidupan di bumi, khususnya mengungkapkan tentang bagaimana ia menata
dan memberikan kesuburan, kemakmuran dan kejayaan kepada seluruh putra-putri
Ibu Pertiwi (bangsa Nusantara).
Api pada tungku
dinyalakan bertepatan dengan terbitnya matahari pagi, hal ini merupakan
perlambang ungkapan rasa terima-kasih atas limpahan anugrah dari Yang Maha
Kuasa dalam mengawali kehidupan yang dipandu oleh waktu / cahaya. Melalui
lambang Yang Maha Kuasa yang ada di langit (matahari) itulah segala kehidupan
di Bumi ini digerakan; binatang, tumbuhan, manusia, dan sebagainya memulai
kegiatan mereka sesuai fungsinya masing-masing.
Setelah se’eng (dandang)
diletakan di atas tungku perapian, lalu wanita mulai menata nyiru atau tampah
berbentuk lingkaran terbuat dari anyaman bambu yang akan digunakan sebagai alas
Sangu Tumpeng. Nyiru adalah bentuk perlambangan matahari atau sering disebut
sebagai Sang Hyang Manon atau Sang Hyang Tunggal.
Nyiru sebagai lambang Matahari (Sunda)
Nyiru sebagai lambang Matahari (Sunda)
Bagian tepi (pinggiran) nyiru diberi daun pisang manggala yang telah
dibentuk segi-tiga lalu dirangkai dan disambung dengan menggunakan tusuk biting
terbuat dari lidi pohon kawung. Susunan daun pisang manggala yang melingkar di
sekeliling nyiru adalah perlambang dari sinar matahari, dan arti “manggala”
sendiri adalah “yang menyampaikan hukum atau yang menguasai aturan”, sedangkan
istilah kawung menjadi perlambang dari kata “Sang Suwung” (Hyang Maha Kuasa).
Sangu Tumpeng dalam pola tanda berupa gunung berwarna kuning merupakan
lambang keagungan gunung Sunda, mustahil membicarakan Sangu Tumpeng jika tidak
membicarakan tentang Sunda mengapa demikian? Sebab “Sunda” itu artinya adalah
“Matahari”.
1. Purwa, menghadap (mengarah) ke Timur berisi bakakak ayam jantan (jenis ayam kampung).
2. Daksina, menghadap ke Selatan berisi unsur unsur-unsur pertanian dan perkebunan seperti; sayuran segar (lalab), tomat, ketimun, dst.
3. Pasima, menghadap ke Barat berisi makanan / masakan olahan tumbuhan seperti; perkedel, sambal goreng kentang, goreng tempe, sambal goreng terasi.
4. Utara, menghadap ke Utara berisi masakan olahan berdaging / satwa seperti; ikan mas, ikan asin, udang, teri, daging.
5. Madya, letaknya di pusat atau di tengah-tengah yaitu nasi kuning berbentuk gunung dan di puncaknya diletakan telur ayam kampung sebagai Cupumanik Astagina (Cupumanik Astra-Geni).
Pola susunan tersebut di atas sesungguhnya mengajarkan dan memaparkan tentang mutu cahaya (waktu dan kala / jaman) yang mempengaruhi kehidupan manusia, beserta tahap perkembangan peradabannya.
Dalam gelar “kedewaan” (nilai cahaya / nilai waktu) kelima (5) “ruang dan
waktu” (arah dan warna / cahaya) itu disebut: Sang Hyang Siwa sebagai Madya
(pusat segala cahaya / segala warna), Sang Hyang Iswara sebagai Purwa yang
bercahaya putih, Sang Hyang Brahma sebagai Daksina yang bercahaya merah, Sang
Hyang Mahadewa sebagai Pasima bercahaya kuning, Sang Hyang Wisnu sebagai Utara
bercahaya hitam. Jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Iswara / Purwa / Timur / Putih; merupakan penanda pagi hari, namun
sekaligus sebagai penanda awal peradaban manusia, jaman para leluhur bangsa.
Hal ini ditandai dengan keberadaan “ayam” sebagai lambang “manusia awal
kehidupan”.
2. Brahma / Daksina / Selatan / Merah; merupakan penanda siang hari, namun juga sebagai penanda jaman beradab atau masa kejayaan (kemakmuran). Hal ini di tandai oleh benda-benda pertanian dan perkebunan.
3. Mahadewa / Pasima / Barat / *Kuning; merupakan penanda senja hari (sore), tetapi juga sebagai penanda menurunnya masa kejayaan atau lunturnya jaman kemakmuran. Hal ini ditandai oleh bentuk makanan olahan yang tahan lama.
4. Wisnu / Utara / Utara / Hitam; merupakan penanda malam hari, yang juga menunjukan keruntuhan kejayaan manusia atau kehancuran peradaban manusia untuk menyelamatkan kehidupan mahluk-mahluk lain (non-manusia) di Bumi. Hal ini ditandai dengan masakan olahan (hewani).
5. Siwa / Madya / Pusat / Tengah; adalah penanda penguasa waktu / era / jaman yang mengembalikan segala kehidupan di Bumi seperti pada mulanya, jaman sebelum manusia menguasai (merusak) planet Bumi. Penanda atas hal ini adalah dengan adanya “telur” (Cupumanik Astagina) di puncak Sangu Tumpeng.
2. Brahma / Daksina / Selatan / Merah; merupakan penanda siang hari, namun juga sebagai penanda jaman beradab atau masa kejayaan (kemakmuran). Hal ini di tandai oleh benda-benda pertanian dan perkebunan.
3. Mahadewa / Pasima / Barat / *Kuning; merupakan penanda senja hari (sore), tetapi juga sebagai penanda menurunnya masa kejayaan atau lunturnya jaman kemakmuran. Hal ini ditandai oleh bentuk makanan olahan yang tahan lama.
4. Wisnu / Utara / Utara / Hitam; merupakan penanda malam hari, yang juga menunjukan keruntuhan kejayaan manusia atau kehancuran peradaban manusia untuk menyelamatkan kehidupan mahluk-mahluk lain (non-manusia) di Bumi. Hal ini ditandai dengan masakan olahan (hewani).
5. Siwa / Madya / Pusat / Tengah; adalah penanda penguasa waktu / era / jaman yang mengembalikan segala kehidupan di Bumi seperti pada mulanya, jaman sebelum manusia menguasai (merusak) planet Bumi. Penanda atas hal ini adalah dengan adanya “telur” (Cupumanik Astagina) di puncak Sangu Tumpeng.
Melihat segi pemaknaan pada susunan pola cahaya (kedewaan) maka boleh jadi
Sangu Tumpeng diberi warna “kuning” itu mengandung pengertian “status jaman”,
bahwa kehidupan di muka Bumi ini telah memasuki masa menurunnya kejayaan atau
lunturnya era kemakmuran. Namun akibat ketidak-pahaman masyarakat jaman
sekarang terhadap pola tanda ajaran leluhur (kebudayaan masa lalu) maka
masyarakat modern beranggapan bahwa warna “kuning” itu diumpamakan sebagai
“emas” (lambang kejayaan) padahal nilai makna tersebut kaitannya terlalu erat dengan
nilai ekonomi bahkan mungkin “kapitalisme” sedangkan Sangu Tumpeng secara
mendasar lebih condong mengarah kepada persoalan ruang, waktu dan kejadian.
Melihat situasi dan kondisi kehidupan di muka Bumi pada saat ini maka bukan
tidak mungkin jika Sangu Tumpeng yang seharusnya dibuat di jaman sekarang
adalah berwarna “hitam” (dibuat dari beras hitam) sebagai penanda tiba masanya
memasuki jaman Wisnu / Utara / Hitam… yaaa siapa tau…
*Tambahan :
– Sangu Tumpeng merupakan salah satu Su-Astra Sunda (Sastra Sunda) dan boleh jadi ia-pun merupakan perlambangan Lingga-Yoni.
– Sangu Tumpeng merupakan salah satu Su-Astra Sunda (Sastra Sunda) dan boleh jadi ia-pun merupakan perlambangan Lingga-Yoni.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar