Budaya Sunda NusantaRA
1. Manggala
Salah satu faktor
menguntungkan Indonesia adalah tatanan (tata) letak geografisnya yang strategis
diantara Samudra Hindia dan Pasifik tepat pada titik persilangan jalur lalu
lintas menghubungkan anak benua India, Cina, Eropa dan Timur jauh, layaknya
titian yang menjembatani bangsa-bangsa di belahan bumi Asia dan Australia.
Aroma rempah-rempah dan keramahan penduduk yang mendiami gugusan pulau-pulau membentang
ujung barat sampai ke timur telah menarik perhatian bangsa-bangsa belahan bumi
lainnya untuk bertandang.
Sejak awal peradaban
bangsa-bangsa dari berbagai negri melakukan kontak harmonis dan selama
berabad-abad terjalin persahabatan dalam untaian budaya yang saling mengaliri.
Tidak heran jika seorang Kalidasa yang hidup pada masa pemerintahan
Chandragupta II, 381-413 Masehi, dalam kakawin Raghuwamsa menuturkan
“Dwipantara atau Nusantara adalah negri subur dan makmur serta sangat populer
di Benua Asia karena kaya rempah-rempah dan hasil bumi, telah menjalin kontak
dengan bangsa Sunda NusantaRA”.
Daerah-daerah pesisir
kepulauan Indonesia berperan sebagai kota-kota pelabuhan letaknya tidak jauh
dari Semenanjung Malaka yang ramai sejak awal abad I Masehi hingga mencapai
puncaknya abad VIII Masehi banyak dikunjungi para pedagang Arab, Parsi, Turki,
India dan Cina.
Sumber Arab (Ferrand
1922:69) dan Berita Cina (Dinasti T’ang, 674) menceritakan bahwa sepanjang
jalan perdagangan Asia Tenggara terutama di pantai barat Sumatra dihuni
koloni-koloni pedagang Arab, India, Cina dan bangsa-bangsa lain di daratan Asia
(Khmer, Mon, Campa dan lainnya).
Kendati tidak sepenuhnya,
kiranya, peristiwa perdagangan adalah yang paling signifikant diiringi
pertukaran kebudayaan. Ditengarai bahwa kebudayaan asing yang datang ke
Indonesia pun berlangsung dalam proses pengaruh dan mempengaruhi melalui
berbagai peristiwa yang disebut akulturasi.
Paradigma umum menyatakan
bahwa kekunaan/sejarah kebudayaan kebudayaan suatu bangsa hampir selalu diukur
dengan permulaan adanya berita tertulis dengan corak budaya Hindu-Budha yang
berasal dari India. Maka pembicaraan sejarah kuna Indonesia selalu dimulai
dengan penetrasi kebudayaan yang kerap disebutkan dengan istilah masa
Hindu-Budha. Bangsa Sunda NusantaRA yang belum bangga dengan era ajaran SUNDAYANA.
Padahal ajaran Sundayana addalah dasar ajaran Hindu dan Budha yaitu “welas asih”.
Dalam proses pemengaruhan
kebudayaan Indonesia itu sedikit-dikitnya nampak pada enam unsur:
1) bahasa;
2) teknologi;
3) organisasi sosial;
4) sistem pengetahuan
5) ajaran spiritual;
6) kesenian dan
7) sistem mata pencaharian.
Namun sangatlah perlu
dicatat, kehadiran unsur pengaruh yang akrab disebut Hindu-Budha (India) dan
kelengkapan konseptualnya bersifat a less extreme acculturation. Namun tidak
memusnahkan budaya-budaya tradisional dan perangkat kepribadiannya yang khas
Nusantara (Indonesia).
Meskipun diakui
implikasinya memang telah menurunkan kemahiran kemahiran tertentu namun yang
terjadi sebenarnya adalah justru lebih mem-pertegas dan menonjolkan kreavitas
dan dayacipta setempat. Sebelum terjadi kontak dengan pengaruh asing, ketika
itu bangsa Indonesia telah memancangkan tonggak peradaban dalam tubuh
kebudayaannya yang bernilai tinggi dan mantap, maka inovasi luar tidak lebih
merupakan zat penyubur saja.
Disebutkan bahwa secara
garis besar periode abad ke-4 sampai abad ke-10 Masehi di Sunda NusantaRA
terdapat dua tipe kerajaan. Tipe pertama adalah kerajaan-kerajaan pantai dengan
berdasarkan aktivitas perdagangan yang berkembang sekeliling kota-kota pantai
(pelabuhan) dan yang berorientasi pada kebudayaan maritim. Kerajaan tipe
pertama tidak mempunyai wilayah atau daerah pedesaan luas dengan mata pencahari
penduduk petani yang besar jumlahnya, tetapi juga memiliki perangkat armada
perdagangan besar dengan perahu-perahu layar dan bercadik.
Diantaranya kerajaan Sri
Vijaya, berdasarkan warisan aktivitas budaya (data tekstual-kontekstual)
kerajaan ini tumbuh dan berkembang sekitar abad ke-7 Masehi. Kota-kotanya
terdiri dari bangunan kayu dan bambu yang dihiasi ukiran-ukiran indah dengan
warna merah dan emas. Namun tentu saja bangunan tersebut kini telah hilang
tiada berbekas disebabkan kondisi cuaca dan iklim tropikal yang berpotensi
lembab. Ibukota kerajaan Sri Vijaya beberapa kali pindah tempat namun kuat
dugaan letaknya pusat kekuasaannya meliputi Semenanjung Melayu dan bagian barat
kepulauan Sunda NusantaRA.
Tipe kerajaan yang kedua di
kepulauan Indonesia adalah kerajaan yang di daerah pedalaman, lembah-lembah
atau dataran-dataran tinggi di lingkungan kompleks gunung-gunung api yang
sangat subur. Masyarakat hidup dari kegiatan dan pertanian dengan orientasi
kepada kebudayaan agraris. Dalam tipe kebudayaan ini berkembang konsep khusus
mengenai sifat raja yang dianggap sebagai penjelmaan (titisan) dewa gunung atau
dewa alam. Mereka memiliki tugas dan kewajiban menjaga keselarasan kosmos
dengan meniru susunan alam semesta kerajaannya, kedudukannya melambangkan
rajadewa di pusat alam semesta. Konsepsi tersebut di dalam suatu kerajaan kuno
memungkinkan untuk memantapkan pemerintahan kerajaannya dengan landasan
keyakinan dan kepercayaan rakyatnya.
Kemunculan
kerajaan-kerajaan ditandai prasasti-prasasti yang meng-gunakan aksara dan
bahasa yang dikenal di India pada abad ke-4 dan ke-5. Diantaranya prasasti
Kutei pada tujuh tonggak (Yupa) beraksara Pallava dan berbahasa Sanskerta
ditemukan di Bakulapura (Kalimantan Timur) isinya putra Kundungga bergelar
Mulawarman, berputra Aswawarman. Mulawarman adalah seorang pendiri dinasti yang
mengadakan kenduri besar bernilai emas sangat banyak terdiri segunung minyak
kental, lampu, malai bunga, 20.000 ekor sapi dipersembahkan kepada para
brahmana yang bagaikan api yang memberi kekuatan hidup.
Pada abad yang sangat
berdekatan, aksara Pallava dan bahasa Sanskrta ditemukan pada tujuh batu di
Jawa Barat dikeluarkan oleh Purnawarman dari Kerajaan Taruma (Tarumanagara 450
M). Salah satu prasastinya (Tugu) menerangkan bahwa pada pemerintahannya yang
ke-22 tahun ia melakukan karya-karya besar, membuat saluran Gomati dan
Candrabhaga guna memperlancar kegiatan pelayaran, dan berfungsi sebagai benteng
pertahanan pendirian pusat kerajaan (benteng air).
Keistimewaan
prasasti-prasasti kerajaan Taruma disusun berupa syair (Sloka) ke dalam tatanan
metrum anustubh dan ada juga yang bermetrum sragdhara. Susunan sloka dan bentuk
metrumnya begitu sempurna dan hanya mampu dibuat oleh si pendukung atau pemilik
budayanya langsung. Kondisi yang ditunjang oleh peran, kedudukan atau posisi
Tarumanagara, kerajaan tertua membutuhkan kekuatan sosial-politik bertaraf
internasional untuk memperkuat kekuasaan dan kharismatik raja.
Sehubungan dengan
pengumuman tentang keberadaannya kerajaan Taruma dikabarkan mengirimkan utusan
ke Cina tahun 435, 528, 535, 666 dan 669 M.
2. Sambandha: Dinamika
Kepribadian Nenekmoyang Bangsa Indonesia
Sejak masa Prasejarah
masyarakat Sunda NusantaRA Indonesia telah mampu membuat arca-arca dan
bangunan-bangunan besar, seperti candi atau piramd. Di Indonesia candi yang
dibangun ditujukan untuk menghormati nenek-moyangnya (pendharmmaan). Representasi
yang didasarkan kepercayaan Indonesia asli yang menjadi ciri telah dimiliki
sejak Prasejarah, arca perwujudan atau monolith yang kerap disebut menhir lalu
transformasi dengan busana baru, diberi istilah baru – lingga- di ruang pusat
candi, tidak lain adalah kelanjutan (continuity) atau bentuk lain dari konsep
menhir tersebut.
Masyarakat Sunda NusantaRA,
melandasi kepercayaan yang berkembang pada masa prasejarah, dengan istilah
“wadah” atau menhir (batu tegak) dalam kebudayaan megalitik semata-mata simbol
tempat persemayaman (sthana) sementara roh.
Lebih dari itu, jikalau
konsep dewa di India adalah superhuman being dalam kaitan antara sang pencipta
dan yang dicipta. Maka candi dalam konsep India bahwa candi-candi benar-benar
untuk para dewa.
Demikianlah candi Borobudur
merupakan bangunan perpaduan punden berundak tradisi budaya Sundayana, megalitik
(zigurat) dan stupa dari Indianism.
Bangunan Budha Mantrayana
yang sangat megah ini merupakan representasi ajaran agama (keagamaan) yang
tertera di dalam karyacipta agung cendekiawan Sunda NusantaRA, Sanghyang
Kamahayanikan. Kesempurnaan menata, menempatkan relief-relief pada
dinding-dinding bangunan menampilkan paduan sangat harmonis yang dijalin dalam
Mahakarmmawibhangga, Jatakamala, Awadanajataka, Lalitawistara, Gandawyuha
merupakan gambaran tahap-tahap melaksanakan Paramitayana-Mantrayana yang
direpresentasikan melalui lima arca Tathagata, pencapaian tingkatan-tingkatan
ke sucian “HYANG” yang melambang-kan Dharmacakramudra.
Borobudur tiada lain
lambang kosmos (mandala) berbentuk “zigurat” dibangun berundak makin keatas
makin kecil hakekatnya merupakan replika gunung, perlambangan tahta
persemayaman nenek-moyang.
Oleh karena itu Prasasti
Kayumwungan (746 Saka/824 Masehi); prasasti Plaosan Lor (764 Saka/842 Masehi)
yang berisi informasi tentangnya, menyebut bahwa candi Borobudur sebagai
kamulan i bhumi sambhara, tempat- ka-mula-an atau sang mula-mula (sang awal)
“arwah leluhur yang abadi di alam kalanggengan’ Menurut hukum tatabahasa Sunda
NusantaRa, istilah kamulan berasal dari ka-mula-an dengan kata dasar mula
artinya umbi, asal, dalam arti seluas-luasnya sang pemula atau leluhur,
rumuhun.
Masyarakat Sunda NusantaRA,
kebudayaan (etnis) yang membuktikan bahwa suku-suku yang hidup di pedalaman
Indonesia ternyata telah lebih awal melandasi diri mengenal “HYANG”.
Salah satu ungkapan seruan
itu dimuat dalam prasasti Mantyasih (907 Masehi): “Sakwaih ta Rumuhun RA “HYANG”
ta i Mdang i Bumi Mataram … umasuki ning ngwang kita kabaih”.
Karena itu, segala sesuatu
yang berkaitan dengan gejala perubahan atas lingkungan alam khususnya, objek
utama upacara peresmian sima disimbolkan oleh bentuk lumpang batu (lisung) yang
diberi honorefic prefic (ungkapan hormat) Sang “HYANG” Watu Kulumpang
simbolisasi persatuan bumi-pertiwi (mandala) atau mikrokosmos dengan
pasangannya yang berupa gandik disebut Sang “HYANG” Teas (halu) tiada lain
adalah lambang jagat semesta, makrokosmos.
R.von Heine Geldern (l982)
kota dan kerajaan-kerajaan di Sunda NusantaRA:“pusat dunia dikelilingi tujuh
benua dan tujuh lautan yang membentuk cincin” dengan dasar kota dan kerajaan
tiada lain adalah replika kosmos susunannya pun meniru kosmos. Anehnya,
kota-kota awal Sunda NunsantaRA berpola segiempat, bukan seperti cincin.
Menurut William Alkire (cf. John Miksic 1982) orang Austronesia (non-Hindu)
telah memiliki konsep kosmos dengan bentuk segiempat. Konsep yang didasarkan
pengetahuan astronomi yang kini tersisa di Mikronesia, tampak konsep
Austronesia asli inilah yang mendasari dan melandasi susunan kota dan
kerajaan-kerajaan di Sunda NusantaRA.
Salah satu kelompok etnis
Indonesia yang setia memeluk kepercayan Klasik adalah Bali, agamanya memang
disebut “Hindu Dharmma” tetapi tetap saja tatanan kosmisnya memegang konsep
leluhur, SUNDAYANA hasil pemikiran local development dan berlandaskan kepada
keyakinan:
1) atita-nagata-warttamana:
setiap perubahan yang terjadi terjalin erat antara masa masa lampau, kini dan
masa yang akan datang;
2) desa-kala-patra: setiap
perubahan disesuaikan dengan lingkungan/ tempat (desa), waktu (kala) dan
suasana/keadaan (patra);
3) tri-hita-karana: setiap
perubahan perkembangan berpegang kepada pokok yang tiga (tri), hita (baik),
karana (sebab), faktor pawongan (manusia), pallemahan (tanah dan lingkungan
hunian), parHYANGan (candi atau bangunan suci).
Dijelaskan oleh
Stutterheim, seorang sejarahwan (berkebangsaan Belanda), ketika meneliti epic
Ramayana mem-buktikan, bahwa cerita Ramayana
adalah mitos Sunda NusantaRA yang
di bawa ke India. Bukti nya adalah kerajaan ALENGKA adalah Majalengka, kota di
Jawa Barat.
Ramayana epic antara lain
ditemukan dalam pahatan relief-relief candi Prambanan, ternyata isinya adalah
riwayat hidup raja yang di-dharmmakan di sana (Rakai Pikatan). Begitu pula relief
Ramayana dan Mahabharata yang dipahatkan pada candi-candi di Jawa Timur
meng-gambarkan Arjuna yang dianggap sebagai Mintaraga, bahkan Pandawa(desa
Pandawa di dekat Brebes) diidentifikasi sebagai manusia Sunda NusantaRA.
Sejarah mencatat bahwa
senisastra yang menjadi sumber inspirasi atas pemahatan relief-relief yang pada
dipahatkan bangunan–bangunan candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur digubah para
pujangga Sunda NusantaRA. Sebagaimana kegeniusan seorang Mpu Kanwa meramu dan
menggubah bagian-bagian kakawin Mahabharata dan Arjunabhigama, di Indonesia
dikenal dengan Parthayajnya Wirataparwan dan Niwatakawacaparwa yang selanjutnya
menjadi karyasastra baru atau yang disebut gubahan Arjunawiwaha.
Sejak awal masyarakat
kepulauan Indonesia telah memiliki dan mengenal alat komunikasi, lingua-franca,
yakni bahasa k’wun-lun (Kunlun). Jenis bahasa pergaulan antar bangsa atau
bahasa Malayu yang diwarnai interferensi bahasa Sanskerta dan berkembang di
dalam perbendaharaan bahasa Malayu pergaulan. Itu membuktikan bahwa tatkala
munculnya prasasti pertama, masyarakat Sunda Nusantara sebenarnya telah sejak
awal melek baca dan tulis bahkan memahami bahasa-bahasa yang dipakai di dunia
“international” (a.l. Sanskerta). Tentu saja tulisan-tulisan yang dikenal waktu
itu dan digoreskan pada bahan-bahan yang sangat mudah lapuk (ron [/daun]Tal,
bambu, kulit kayu) kenyataan bahwa etnis Batak, Aceh juga etnis-etnis lain di Sunda
Nusantara memiliki sistem aksaranya sendiri.
Sebelum dapat menulis dan
membaca mereka sudah mengenal sistem organisasi, dimana ada seorang pemimpin
didampingi pendeta, upacara-upacara dalam sistem kepercayaan pribumi, dukun
dalam soal magi dan obat-obatan, pasukan tentara, arsitek rumah, kapal dengan
para pandai atau ahli cor logam, pemahat, petani dan nelayan yang telah
menghasikan komoditi pangan.
Raja-raja dengan gelar
abhisekanama (nama tahbis) bahasa Sanskrta pun telah melalui serangkaian
upacara dengan bantuan para brahmana tiada lain demi wibawa dan gengsi
internasional bagi kawan maupun lawan, tetap saja sifat kesakralannya dianggap
memiliki kekuatan sakti “mana” yang dikenal dalam kebudayaan Austronesia.
Religi dalam kebudayaan Sunda NusantaRA berlandaskan pada keyakinan bahwa si
pemimpin masyarakat adalah keturunan langsung dari nenekmoyang yang pertama
mendirikan individu atau kelompok masyarakat bersangkutan serta dianggap hidup
sebagai leluhur.
Pangkal kepercayaan
berkembangnya konsepsi rajadewa dalam kerajaan-kerajaan Indonesia tipe kedua
adalah bentuk pemerintahan yang berlandaskan kebudayaan agraris.
Menangani kepercayaan asli
yang telah sejak awal berkembang di dalam masyarakat, Herman Kulke menuturkan
bahwa raja-raja membentuk pasukan tentara khusus.
dari kelompok-kelompok masyarakat tersebut
guna melindungi dewa pribumi.
Diantaranya di kawasan
Lebak (Banten, Jawa Barat), terdapat sejumlah situs yang bercorak (tradisi)
megalitik juga terdapat prasasti (insitu) di tepi Ci DangHYANG, digoreskan pada
bongkah batu alam beraksara Pallava dan bahasa Sanskrta menyatakan kawasan ini
berada dalam kekuasaan Purnawarman penguasa kerajaan Taruma sebagai panji
segala raja-raja. Simbol-simbol yang dipuja oleh masyarakat pribumi tersebut
didudukkan sebagai karuhun atau leluhur keluarga.
Dalam kebudayaan Sunda NusantaRA mengenal
Tirtha (Toya) Amerta (air kehidupan)
Di Indonesia Bima adalah
justru tokoh utama di dalam cerita Dewaruci yang justru mencari air kehidupan
dengan berbagai istilah seperti tirta nirmala, tirta kamandalu, toya pawitra,
toya marta, banyu panguripan, atau amrtanjiwani.
Tradisi sengkalan berlanjut
hingga pengaruh Islam dalam tulisan bahasa Arab dan Sunda (dialek Banten) untuk
mem-peringati pemindahan meriam Demak (Ki Jimat) ke Banten (Ki Amuk) “akibat ul
khair salawat al iman” (pangkal kebaikan adalah keselamatan iman) lambang angka
tahun 1450 Saka (1528/1529 Masehi).
Islam yang hadir sebagai
pembungkus (busana) luar dari kebudayaan.
Kekuatan atas kemandirian kreativitas sejak
paling awal telah tampil sangat mencolok, diantaranya. Adalah unur pernanggalan yang tidak ada dan tidak pernah
dikenal di India.
Citarasa kepribadian Sunda
NusantaRA (F.D.K.Bosch 1952), penyerapan substansi-substansi baru atau asing
terhadap kebudayaan di kawasan Sunda NusantaRA telah menghasilkan ekspresi
budaya dengan karakter kepribadian bangsa. Keanekaragaman ekspresi budaya yang
berpegang pada prinsip-prinsip dasar sebagai filter pertahanan kuat bagi
warisan budaya yang telah dimiliki. Pengaruh asing tidak pernah mampu menggusur
tatanan kebudayaan yang dimiliki sebelumnya, melainkan tetap berakar kuat dan
tidak pernah kehilangan identitasnya.
Unsur-unsur asing yang
bertandang ke kawasan Sunda NusantaRA sebenar-nya tidak membawa perubahan
kebudayaan secara kwalitatif atau yang disebut morphogenesis, melainkan
cenderung secara kwantitatif (morphostatis), hanya sekedar memperkaya
kebudayaan asli. Kemampuan yang semata-mata berlandaskan nilai terbuka selektif,
sikap yang dicerminkan dengan adanya unsur kebudayaan bangsa lain
3. Pamungkas
Keseluruhan faset
kebudayaan yang dipaparkan tersebut sangat erat hubungannya dengan sikap dan
kemandirian yang membentuk kepribadian bangsa. Semua materi yang terkandung
dalam kebudayaan, diperoleh manusia Sunda NusantaRA secara sadar lewat proses
belajar. Di dalam kegiatan belajar inilah kebudayaan diteruskan dari dan oleh
generasi satu ke generasi dan dari waktu ke waktu. Kebudayaan yang telah lalu
bereksistensi di masa kini, kebudayaan masa kini disampaikan ke masa datang,
hakekatnya kebudayaan memiliki kemampuan mengikat waktu. Jikalau tanaman
mengikat bahan-bahan kimiawi dengan akar-akarnya, hewan mengikat ruang, maka
hanya manusialah yang mampu mengikat waktu melalui kebudayaan.
l952 “Local Genius en Oud
Javaanse Kunst” dalam Mededeelingen der
Koninklijke Academie voor
Wetenschappen.
J.G.de Casparis
l950 “Inscripties uit de
Cailendra-tijd”, Prasasti Indonesia I. Bandung: Masa Baru- A.C.Nix.
Edi Sedyawati
1977 “Tarumanagara:
Penafsiran Budaya”, dalam HM.Joesoef dan TA. Soebrata Wiriamihardja
(Penyunting), Laporan Diskusi Panel: Menggali Kembali Sejarah Kebudayaan
Tarumanagara Sebagai Sumbangsih Universitas Tarumanagara Kepada Nusa dan
Bangsa. Jakarta: UPT. Universitas Tarumanagara.
G. Ferrand
1913-1914
Relations de Voyages et
texte Geographiques Arabes, Persians et Turks Relatifs á l’Extréme- Orient du
VIIIe au XVIIIe siecle, Paris, 2 Jilid
R.von Heine Geldern
1982 Konsepsi Tentang
Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara.
Rajawali Press
Miksic, John
l982 “Perubahan Kebudayaan
dan Kronologi Arkeologi di Indonesia”,
Makalah Ceramah Himpunan
Mahasiswa Arkeologi UGM.
Koentjaraningrat
l963 Guna Antropologi untuk
Historiografi Indonesia”, Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia (MISI), Indonesian
Journal of Cultural Studies, Djilid I, No.1. Diterbitkan oleh Penerbit Bhratara
dalam Kerdjasama Ikatan Sardjana Sastra Indonesia.
K.C.Kruq
1889 “De Geschiedenis van
Heilige Kanon te Banten”, T.B. G. 78
H.G.Quaritch Wales
l948 “The Making of Greater
India: A Study of Southeast Asia Culture Change”, dalam Journal of the Asiatic
Society.
W.W. Rockhill
l915 “ Notes on the
Relations and Trade of China with Eastern
Archipelago and the Coast
of the Indian Ocean in the Fourteenth
Century” T’ung Pao, XVI.
Sartono Kartodirdjo
1977 “Agrarian Unrest and
Peasant Mobilization of Java in the Nineteen
Sixties”, Topic I: Modern
Asia : Problem and Prospects, Seventh IAHA Conference Bangkok, 22-26 August7,
(Proceedings) Volume 1. Chulangkorn University Press, Bangkok–Thailand. Halaman
21-52.
R.P.Soejono
l977 Sistem-sistem
Penguburan Pada Akhir Masa Prasejarah di Bali. Disertasi Universitas Indonesia.
M.M.Soekarto K Atmodjo
1983 “Arti Air Penghidupan
di dalam Masyarakat Jawa”, Proyek
Javanologi.
l983 “Short Notes on
Agricultural Data from Ancient Balinese Inscriptions”, The Fourth
Indonesia-Dutch History Conference, Yogyakarta, Juli 24-29.
l986 “Pengertian Local
Genius dan Relevansinya dalam Modernisasi” di
dalam Ayatrohaedi
(Penyunting.), Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar