Senin, 17 Oktober 2016

Budaya Sunda NusantaRA


Budaya Sunda NusantaRA
1. Manggala
Salah satu faktor menguntungkan Indonesia adalah tatanan (tata) letak geografisnya yang strategis diantara Samudra Hindia dan Pasifik tepat pada titik persilangan jalur lalu lintas menghubungkan anak benua India, Cina, Eropa dan Timur jauh, layaknya titian yang menjembatani bangsa-bangsa di belahan bumi Asia dan Australia. Aroma rempah-rempah dan keramahan penduduk yang mendiami gugusan pulau-pulau membentang ujung barat sampai ke timur telah menarik perhatian bangsa-bangsa belahan bumi lainnya untuk bertandang.
Sejak awal peradaban bangsa-bangsa dari berbagai negri melakukan kontak harmonis dan selama berabad-abad terjalin persahabatan dalam untaian budaya yang saling mengaliri. Tidak heran jika seorang Kalidasa yang hidup pada masa pemerintahan Chandragupta II, 381-413 Masehi, dalam kakawin Raghuwamsa menuturkan “Dwipantara atau Nusantara adalah negri subur dan makmur serta sangat populer di Benua Asia karena kaya rempah-rempah dan hasil bumi, telah menjalin kontak dengan bangsa Sunda NusantaRA”.
Daerah-daerah pesisir kepulauan Indonesia berperan sebagai kota-kota pelabuhan letaknya tidak jauh dari Semenanjung Malaka yang ramai sejak awal abad I Masehi hingga mencapai puncaknya abad VIII Masehi banyak dikunjungi para pedagang Arab, Parsi, Turki, India dan Cina.
Sumber Arab (Ferrand 1922:69) dan Berita Cina (Dinasti T’ang, 674) menceritakan bahwa sepanjang jalan perdagangan Asia Tenggara terutama di pantai barat Sumatra dihuni koloni-koloni pedagang Arab, India, Cina dan bangsa-bangsa lain di daratan Asia (Khmer, Mon, Campa dan lainnya).
Kendati tidak sepenuhnya, kiranya, peristiwa perdagangan adalah yang paling signifikant diiringi pertukaran kebudayaan. Ditengarai bahwa kebudayaan asing yang datang ke Indonesia pun berlangsung dalam proses pengaruh dan mempengaruhi melalui berbagai peristiwa yang disebut akulturasi.
Paradigma umum menyatakan bahwa kekunaan/sejarah kebudayaan kebudayaan suatu bangsa hampir selalu diukur dengan permulaan adanya berita tertulis dengan corak budaya Hindu-Budha yang berasal dari India. Maka pembicaraan sejarah kuna Indonesia selalu dimulai dengan penetrasi kebudayaan yang kerap disebutkan dengan istilah masa Hindu-Budha. Bangsa Sunda NusantaRA yang belum bangga dengan era ajaran SUNDAYANA. Padahal ajaran Sundayana addalah dasar ajaran Hindu dan Budha yaitu “welas asih”.
Dalam proses pemengaruhan kebudayaan Indonesia itu sedikit-dikitnya nampak pada enam unsur:
1) bahasa;
2) teknologi;
3) organisasi sosial;
4) sistem pengetahuan
5) ajaran spiritual;
6) kesenian dan
7) sistem mata pencaharian.
Namun sangatlah perlu dicatat, kehadiran unsur pengaruh yang akrab disebut Hindu-Budha (India) dan kelengkapan konseptualnya bersifat a less extreme acculturation. Namun tidak memusnahkan budaya-budaya tradisional dan perangkat kepribadiannya yang khas Nusantara (Indonesia).
Meskipun diakui implikasinya memang telah menurunkan kemahiran kemahiran tertentu namun yang terjadi sebenarnya adalah justru lebih mem-pertegas dan menonjolkan kreavitas dan dayacipta setempat. Sebelum terjadi kontak dengan pengaruh asing, ketika itu bangsa Indonesia telah memancangkan tonggak peradaban dalam tubuh kebudayaannya yang bernilai tinggi dan mantap, maka inovasi luar tidak lebih merupakan zat penyubur saja.

Disebutkan bahwa secara garis besar periode abad ke-4 sampai abad ke-10 Masehi di Sunda NusantaRA terdapat dua tipe kerajaan. Tipe pertama adalah kerajaan-kerajaan pantai dengan berdasarkan aktivitas perdagangan yang berkembang sekeliling kota-kota pantai (pelabuhan) dan yang berorientasi pada kebudayaan maritim. Kerajaan tipe pertama tidak mempunyai wilayah atau daerah pedesaan luas dengan mata pencahari penduduk petani yang besar jumlahnya, tetapi juga memiliki perangkat armada perdagangan besar dengan perahu-perahu layar dan bercadik.
Diantaranya kerajaan Sri Vijaya, berdasarkan warisan aktivitas budaya (data tekstual-kontekstual) kerajaan ini tumbuh dan berkembang sekitar abad ke-7 Masehi. Kota-kotanya terdiri dari bangunan kayu dan bambu yang dihiasi ukiran-ukiran indah dengan warna merah dan emas. Namun tentu saja bangunan tersebut kini telah hilang tiada berbekas disebabkan kondisi cuaca dan iklim tropikal yang berpotensi lembab. Ibukota kerajaan Sri Vijaya beberapa kali pindah tempat namun kuat dugaan letaknya pusat kekuasaannya meliputi Semenanjung Melayu dan bagian barat kepulauan Sunda NusantaRA.

Tipe kerajaan yang kedua di kepulauan Indonesia adalah kerajaan yang di daerah pedalaman, lembah-lembah atau dataran-dataran tinggi di lingkungan kompleks gunung-gunung api yang sangat subur. Masyarakat hidup dari kegiatan dan pertanian dengan orientasi kepada kebudayaan agraris. Dalam tipe kebudayaan ini berkembang konsep khusus mengenai sifat raja yang dianggap sebagai penjelmaan (titisan) dewa gunung atau dewa alam. Mereka memiliki tugas dan kewajiban menjaga keselarasan kosmos dengan meniru susunan alam semesta kerajaannya, kedudukannya melambangkan rajadewa di pusat alam semesta. Konsepsi tersebut di dalam suatu kerajaan kuno memungkinkan untuk memantapkan pemerintahan kerajaannya dengan landasan keyakinan dan kepercayaan rakyatnya.

Kemunculan kerajaan-kerajaan ditandai prasasti-prasasti yang meng-gunakan aksara dan bahasa yang dikenal di India pada abad ke-4 dan ke-5. Diantaranya prasasti Kutei pada tujuh tonggak (Yupa) beraksara Pallava dan berbahasa Sanskerta ditemukan di Bakulapura (Kalimantan Timur) isinya putra Kundungga bergelar Mulawarman, berputra Aswawarman. Mulawarman adalah seorang pendiri dinasti yang mengadakan kenduri besar bernilai emas sangat banyak terdiri segunung minyak kental, lampu, malai bunga, 20.000 ekor sapi dipersembahkan kepada para brahmana yang bagaikan api yang memberi kekuatan hidup.

Pada abad yang sangat berdekatan, aksara Pallava dan bahasa Sanskrta ditemukan pada tujuh batu di Jawa Barat dikeluarkan oleh Purnawarman dari Kerajaan Taruma (Tarumanagara 450 M). Salah satu prasastinya (Tugu) menerangkan bahwa pada pemerintahannya yang ke-22 tahun ia melakukan karya-karya besar, membuat saluran Gomati dan Candrabhaga guna memperlancar kegiatan pelayaran, dan berfungsi sebagai benteng pertahanan pendirian pusat kerajaan (benteng air).

Keistimewaan prasasti-prasasti kerajaan Taruma disusun berupa syair (Sloka) ke dalam tatanan metrum anustubh dan ada juga yang bermetrum sragdhara. Susunan sloka dan bentuk metrumnya begitu sempurna dan hanya mampu dibuat oleh si pendukung atau pemilik budayanya langsung. Kondisi yang ditunjang oleh peran, kedudukan atau posisi Tarumanagara, kerajaan tertua membutuhkan kekuatan sosial-politik bertaraf internasional untuk memperkuat kekuasaan dan kharismatik raja.
Sehubungan dengan pengumuman tentang keberadaannya kerajaan Taruma dikabarkan mengirimkan utusan ke Cina tahun 435, 528, 535, 666 dan 669 M.
2. Sambandha: Dinamika Kepribadian Nenekmoyang Bangsa Indonesia
Sejak masa Prasejarah masyarakat Sunda NusantaRA Indonesia telah mampu membuat arca-arca dan bangunan-bangunan besar, seperti candi atau piramd. Di Indonesia candi yang dibangun ditujukan untuk menghormati nenek-moyangnya (pendharmmaan). Representasi yang didasarkan kepercayaan Indonesia asli yang menjadi ciri telah dimiliki sejak Prasejarah, arca perwujudan atau monolith yang kerap disebut menhir lalu transformasi dengan busana baru, diberi istilah baru – lingga- di ruang pusat candi, tidak lain adalah kelanjutan (continuity) atau bentuk lain dari konsep menhir tersebut.
Masyarakat Sunda NusantaRA, melandasi kepercayaan yang berkembang pada masa prasejarah, dengan istilah “wadah” atau menhir (batu tegak) dalam kebudayaan megalitik semata-mata simbol tempat persemayaman (sthana) sementara roh.
Lebih dari itu, jikalau konsep dewa di India adalah superhuman being dalam kaitan antara sang pencipta dan yang dicipta. Maka candi dalam konsep India bahwa candi-candi benar-benar untuk para dewa.
Demikianlah candi Borobudur merupakan bangunan perpaduan punden berundak tradisi budaya Sundayana, megalitik (zigurat) dan stupa dari Indianism.
Bangunan Budha Mantrayana yang sangat megah ini merupakan representasi ajaran agama (keagamaan) yang tertera di dalam karyacipta agung cendekiawan Sunda NusantaRA, Sanghyang Kamahayanikan. Kesempurnaan menata, menempatkan relief-relief pada dinding-dinding bangunan menampilkan paduan sangat harmonis yang dijalin dalam Mahakarmmawibhangga, Jatakamala, Awadanajataka, Lalitawistara, Gandawyuha merupakan gambaran tahap-tahap melaksanakan Paramitayana-Mantrayana yang direpresentasikan melalui lima arca Tathagata, pencapaian tingkatan-tingkatan ke sucian “HYANG” yang melambang-kan Dharmacakramudra.
Borobudur tiada lain lambang kosmos (mandala) berbentuk “zigurat” dibangun berundak makin keatas makin kecil hakekatnya merupakan replika gunung, perlambangan tahta persemayaman nenek-moyang.
Oleh karena itu Prasasti Kayumwungan (746 Saka/824 Masehi); prasasti Plaosan Lor (764 Saka/842 Masehi) yang berisi informasi tentangnya, menyebut bahwa candi Borobudur sebagai kamulan i bhumi sambhara, tempat- ka-mula-an atau sang mula-mula (sang awal) “arwah leluhur yang abadi di alam kalanggengan’ Menurut hukum tatabahasa Sunda NusantaRa, istilah kamulan berasal dari ka-mula-an dengan kata dasar mula artinya umbi, asal, dalam arti seluas-luasnya sang pemula atau leluhur, rumuhun.
Masyarakat Sunda NusantaRA, kebudayaan (etnis) yang membuktikan bahwa suku-suku yang hidup di pedalaman Indonesia ternyata telah lebih awal melandasi diri mengenal “HYANG”.  
Salah satu ungkapan seruan itu dimuat dalam prasasti Mantyasih (907 Masehi): “Sakwaih ta Rumuhun RA “HYANG” ta i Mdang i Bumi Mataram … umasuki ning ngwang kita kabaih”.
Karena itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan gejala perubahan atas lingkungan alam khususnya, objek utama upacara peresmian sima disimbolkan oleh bentuk lumpang batu (lisung) yang diberi honorefic prefic (ungkapan hormat) Sang “HYANG” Watu Kulumpang simbolisasi persatuan bumi-pertiwi (mandala) atau mikrokosmos dengan pasangannya yang berupa gandik disebut Sang “HYANG” Teas (halu) tiada lain adalah lambang jagat semesta, makrokosmos.
R.von Heine Geldern (l982) kota dan kerajaan-kerajaan di Sunda NusantaRA:“pusat dunia dikelilingi tujuh benua dan tujuh lautan yang membentuk cincin” dengan dasar kota dan kerajaan tiada lain adalah replika kosmos susunannya pun meniru kosmos. Anehnya, kota-kota awal Sunda NunsantaRA berpola segiempat, bukan seperti cincin. Menurut William Alkire (cf. John Miksic 1982) orang Austronesia (non-Hindu) telah memiliki konsep kosmos dengan bentuk segiempat. Konsep yang didasarkan pengetahuan astronomi yang kini tersisa di Mikronesia, tampak konsep Austronesia asli inilah yang mendasari dan melandasi susunan kota dan kerajaan-kerajaan di Sunda NusantaRA.

Salah satu kelompok etnis Indonesia yang setia memeluk kepercayan Klasik adalah Bali, agamanya memang disebut “Hindu Dharmma” tetapi tetap saja tatanan kosmisnya memegang konsep leluhur, SUNDAYANA hasil pemikiran local development dan berlandaskan kepada keyakinan:
1) atita-nagata-warttamana: setiap perubahan yang terjadi terjalin erat antara masa masa lampau, kini dan masa yang akan datang;
2) desa-kala-patra: setiap perubahan disesuaikan dengan lingkungan/ tempat (desa), waktu (kala) dan suasana/keadaan (patra);
3) tri-hita-karana: setiap perubahan perkembangan berpegang kepada pokok yang tiga (tri), hita (baik), karana (sebab), faktor pawongan (manusia), pallemahan (tanah dan lingkungan hunian), parHYANGan (candi atau bangunan suci).
Dijelaskan oleh Stutterheim, seorang sejarahwan (berkebangsaan Belanda), ketika meneliti epic Ramayana mem-buktikan, bahwa cerita Ramayana  adalah mitos Sunda NusantaRA  yang di bawa ke India. Bukti nya adalah kerajaan ALENGKA adalah Majalengka, kota di Jawa Barat.
Ramayana epic antara lain ditemukan dalam pahatan relief-relief candi Prambanan, ternyata isinya adalah riwayat hidup raja yang di-dharmmakan di sana (Rakai Pikatan). Begitu pula relief Ramayana dan Mahabharata yang dipahatkan pada candi-candi di Jawa Timur meng-gambarkan Arjuna yang dianggap sebagai Mintaraga, bahkan Pandawa(desa Pandawa di dekat Brebes) diidentifikasi sebagai manusia Sunda NusantaRA.

Sejarah mencatat bahwa senisastra yang menjadi sumber inspirasi atas pemahatan relief-relief yang pada dipahatkan bangunan–bangunan candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur digubah para pujangga Sunda NusantaRA. Sebagaimana kegeniusan seorang Mpu Kanwa meramu dan menggubah bagian-bagian kakawin Mahabharata dan Arjunabhigama, di Indonesia dikenal dengan Parthayajnya Wirataparwan dan Niwatakawacaparwa yang selanjutnya menjadi karyasastra baru atau yang disebut gubahan Arjunawiwaha.

Sejak awal masyarakat kepulauan Indonesia telah memiliki dan mengenal alat komunikasi, lingua-franca, yakni bahasa k’wun-lun (Kunlun). Jenis bahasa pergaulan antar bangsa atau bahasa Malayu yang diwarnai interferensi bahasa Sanskerta dan berkembang di dalam perbendaharaan bahasa Malayu pergaulan. Itu membuktikan bahwa tatkala munculnya prasasti pertama, masyarakat Sunda Nusantara sebenarnya telah sejak awal melek baca dan tulis bahkan memahami bahasa-bahasa yang dipakai di dunia “international” (a.l. Sanskerta). Tentu saja tulisan-tulisan yang dikenal waktu itu dan digoreskan pada bahan-bahan yang sangat mudah lapuk (ron [/daun]Tal, bambu, kulit kayu) kenyataan bahwa etnis Batak, Aceh juga etnis-etnis lain di Sunda Nusantara memiliki sistem aksaranya  sendiri.
Sebelum dapat menulis dan membaca mereka sudah mengenal sistem organisasi, dimana ada seorang pemimpin didampingi pendeta, upacara-upacara dalam sistem kepercayaan pribumi, dukun dalam soal magi dan obat-obatan, pasukan tentara, arsitek rumah, kapal dengan para pandai atau ahli cor logam, pemahat, petani dan nelayan yang telah menghasikan komoditi pangan.
Raja-raja dengan gelar abhisekanama (nama tahbis) bahasa Sanskrta pun telah melalui serangkaian upacara dengan bantuan para brahmana tiada lain demi wibawa dan gengsi internasional bagi kawan maupun lawan, tetap saja sifat kesakralannya dianggap memiliki kekuatan sakti “mana” yang dikenal dalam kebudayaan Austronesia. Religi dalam kebudayaan Sunda NusantaRA berlandaskan pada keyakinan bahwa si pemimpin masyarakat adalah keturunan langsung dari nenekmoyang yang pertama mendirikan individu atau kelompok masyarakat bersangkutan serta dianggap hidup sebagai leluhur.
Pangkal kepercayaan berkembangnya konsepsi rajadewa dalam kerajaan-kerajaan Indonesia tipe kedua adalah bentuk pemerintahan yang berlandaskan kebudayaan agraris.
Menangani kepercayaan asli yang telah sejak awal berkembang di dalam masyarakat, Herman Kulke menuturkan bahwa raja-raja membentuk pasukan tentara khusus.
 dari kelompok-kelompok masyarakat tersebut guna melindungi dewa pribumi.
Diantaranya di kawasan Lebak (Banten, Jawa Barat), terdapat sejumlah situs yang bercorak (tradisi) megalitik juga terdapat prasasti (insitu) di tepi Ci DangHYANG, digoreskan pada bongkah batu alam beraksara Pallava dan bahasa Sanskrta menyatakan kawasan ini berada dalam kekuasaan Purnawarman penguasa kerajaan Taruma sebagai panji segala raja-raja. Simbol-simbol yang dipuja oleh masyarakat pribumi tersebut didudukkan sebagai karuhun atau leluhur keluarga.
 Dalam kebudayaan Sunda NusantaRA mengenal Tirtha (Toya) Amerta (air kehidupan)
Di Indonesia Bima adalah justru tokoh utama di dalam cerita Dewaruci yang justru mencari air kehidupan dengan berbagai istilah seperti tirta nirmala, tirta kamandalu, toya pawitra, toya marta, banyu panguripan, atau amrtanjiwani.

Tradisi sengkalan berlanjut hingga pengaruh Islam dalam tulisan bahasa Arab dan Sunda (dialek Banten) untuk mem-peringati pemindahan meriam Demak (Ki Jimat) ke Banten (Ki Amuk) “akibat ul khair salawat al iman” (pangkal kebaikan adalah keselamatan iman) lambang angka tahun 1450 Saka (1528/1529 Masehi).

Islam yang hadir sebagai pembungkus (busana) luar dari kebudayaan.
 Kekuatan atas kemandirian kreativitas sejak paling awal telah tampil sangat mencolok, diantaranya. Adalah unur  pernanggalan yang tidak ada dan tidak pernah dikenal di India.

Citarasa kepribadian Sunda NusantaRA  (F.D.K.Bosch 1952),  penyerapan substansi-substansi baru atau asing terhadap kebudayaan di kawasan Sunda NusantaRA telah menghasilkan ekspresi budaya dengan karakter kepribadian bangsa. Keanekaragaman ekspresi budaya yang berpegang pada prinsip-prinsip dasar sebagai filter pertahanan kuat bagi warisan budaya yang telah dimiliki. Pengaruh asing tidak pernah mampu menggusur tatanan kebudayaan yang dimiliki sebelumnya, melainkan tetap berakar kuat dan tidak pernah kehilangan identitasnya.
Unsur-unsur asing yang bertandang ke kawasan Sunda NusantaRA sebenar-nya tidak membawa perubahan kebudayaan secara kwalitatif atau yang disebut morphogenesis, melainkan cenderung secara kwantitatif (morphostatis), hanya sekedar memperkaya kebudayaan asli. Kemampuan yang semata-mata berlandaskan nilai terbuka selektif, sikap yang dicerminkan dengan adanya unsur kebudayaan bangsa lain
3. Pamungkas
Keseluruhan faset kebudayaan yang dipaparkan tersebut sangat erat hubungannya dengan sikap dan kemandirian yang membentuk kepribadian bangsa. Semua materi yang terkandung dalam kebudayaan, diperoleh manusia Sunda NusantaRA secara sadar lewat proses belajar. Di dalam kegiatan belajar inilah kebudayaan diteruskan dari dan oleh generasi satu ke generasi dan dari waktu ke waktu. Kebudayaan yang telah lalu bereksistensi di masa kini, kebudayaan masa kini disampaikan ke masa datang, hakekatnya kebudayaan memiliki kemampuan mengikat waktu. Jikalau tanaman mengikat bahan-bahan kimiawi dengan akar-akarnya, hewan mengikat ruang, maka hanya manusialah yang mampu mengikat waktu melalui kebudayaan.

l952 “Local Genius en Oud Javaanse Kunst” dalam Mededeelingen der

Koninklijke Academie voor Wetenschappen.

J.G.de Casparis

l950 “Inscripties uit de Cailendra-tijd”, Prasasti Indonesia I. Bandung: Masa Baru- A.C.Nix.

Edi Sedyawati

1977 “Tarumanagara: Penafsiran Budaya”, dalam HM.Joesoef dan TA. Soebrata Wiriamihardja (Penyunting), Laporan Diskusi Panel: Menggali Kembali Sejarah Kebudayaan Tarumanagara Sebagai Sumbangsih Universitas Tarumanagara Kepada Nusa dan Bangsa. Jakarta: UPT. Universitas Tarumanagara.

G. Ferrand

1913-1914

Relations de Voyages et texte Geographiques Arabes, Persians et Turks Relatifs á l’Extréme- Orient du VIIIe au XVIIIe siecle, Paris, 2 Jilid

R.von Heine Geldern

1982 Konsepsi Tentang Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara.

Rajawali Press

Miksic, John

l982 “Perubahan Kebudayaan dan Kronologi Arkeologi di Indonesia”,

Makalah Ceramah Himpunan Mahasiswa Arkeologi UGM.

Koentjaraningrat

l963 Guna Antropologi untuk Historiografi Indonesia”, Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia (MISI), Indonesian Journal of Cultural Studies, Djilid I, No.1. Diterbitkan oleh Penerbit Bhratara dalam Kerdjasama Ikatan Sardjana Sastra Indonesia.

K.C.Kruq

1889 “De Geschiedenis van Heilige Kanon te Banten”, T.B. G. 78



H.G.Quaritch Wales

l948 “The Making of Greater India: A Study of Southeast Asia Culture Change”, dalam Journal of the Asiatic Society.

W.W. Rockhill

l915 “ Notes on the Relations and Trade of China with Eastern

Archipelago and the Coast of the Indian Ocean in the Fourteenth

Century” T’ung Pao, XVI.

Sartono Kartodirdjo

1977 “Agrarian Unrest and Peasant Mobilization of Java in the Nineteen

Sixties”, Topic I: Modern Asia : Problem and Prospects, Seventh IAHA Conference Bangkok, 22-26 August7, (Proceedings) Volume 1. Chulangkorn University Press, Bangkok–Thailand. Halaman 21-52.

R.P.Soejono

l977 Sistem-sistem Penguburan Pada Akhir Masa Prasejarah di Bali. Disertasi Universitas Indonesia.

M.M.Soekarto K Atmodjo

1983 “Arti Air Penghidupan di dalam Masyarakat Jawa”, Proyek

Javanologi.

l983 “Short Notes on Agricultural Data from Ancient Balinese Inscriptions”, The Fourth Indonesia-Dutch History Conference, Yogyakarta, Juli 24-29.

l986 “Pengertian Local Genius dan Relevansinya dalam Modernisasi” di


dalam Ayatrohaedi (Penyunting.), Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar